Perusahaan Indonesia Makin Adopsi AI, Tantangan Berikutnya Membuktikan Nilai Bisnis
Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin masuk ke dalam aktivitas bisnis di Indonesia. Setelah beberapa tahun berada dalam tahap eksperimen dan uji coba, perusahaan mulai mengintegrasikan AI ke dalam berbagai alur kerja, mulai dari analisis data, pelayanan pelanggan, pemasaran, pengembangan perangkat lunak, hingga proses operasional.
Jakarta, 2 Oktober 2026 — Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin masuk ke dalam aktivitas bisnis di Indonesia. Setelah beberapa tahun berada dalam tahap eksperimen dan uji coba, perusahaan mulai mengintegrasikan AI ke dalam berbagai alur kerja, mulai dari analisis data, pelayanan pelanggan, pemasaran, pengembangan perangkat lunak, hingga proses operasional.
Namun, meningkatnya penggunaan AI membawa tantangan baru. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut untuk memiliki teknologi AI, tetapi juga harus dapat membuktikan bahwa investasi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi bisnis.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam IBM CEO Study 2026. Berdasarkan laporan yang dikutip Bisnis.com pada 1 Oktober 2026, sekitar 90% CEO di Indonesia yang menjadi responden menyatakan telah mengintegrasikan AI ke dalam berbagai alur kerja. Di sisi lain, perusahaan masih menghadapi sejumlah hambatan, termasuk kesiapan infrastruktur, data yang belum terintegrasi, keamanan siber, kesiapan talenta, serta ketidakpastian mengenai return on investment (ROI). [1]
Dari Eksperimen Menuju Implementasi
Perkembangan AI di dunia bisnis mengalami perubahan. Pada tahap awal, banyak perusahaan menggunakan AI untuk mencoba berbagai kemungkinan, seperti membuat konten, merangkum dokumen, menghasilkan ide, atau membantu pekerjaan administratif.
Kini, perusahaan mulai membawa AI ke proses bisnis yang lebih luas.
AI dapat digunakan untuk membantu tim marketing menganalisis data kampanye, membantu customer service mengelompokkan pertanyaan pelanggan, membantu programmer menulis dan memeriksa kode, hingga membantu manajemen memperoleh informasi dari kumpulan data dalam jumlah besar.
Perubahan tersebut membuat AI mulai dipandang bukan hanya sebagai alat produktivitas individu, tetapi sebagai bagian dari sistem kerja perusahaan.
Meski demikian, implementasi dalam skala besar membutuhkan perubahan pada proses kerja. Perusahaan harus menentukan bagaimana AI digunakan, siapa yang bertanggung jawab terhadap hasilnya, bagaimana data dikelola, dan bagaimana kinerjanya diukur.
ROI Menjadi Perhatian Utama
Salah satu persoalan yang semakin penting adalah return on investment (ROI).
Membeli layanan AI atau membangun sistem berbasis AI tidak secara otomatis membuat perusahaan lebih produktif. Perusahaan tetap perlu menghitung apakah teknologi tersebut mampu menghemat waktu, mengurangi biaya, meningkatkan penjualan, memperbaiki pelayanan, atau menghasilkan manfaat lain yang dapat diukur.
IBM mencatat bahwa ketidakpastian terhadap ROI menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan berhati-hati dalam melakukan investasi teknologi berskala besar.
Kondisi tersebut menunjukkan perubahan fokus dalam penerapan AI.
Jika sebelumnya pertanyaannya adalah:
“Apa yang bisa dilakukan AI?”
maka perusahaan kini mulai membutuhkan pertanyaan yang lebih spesifik:
“Masalah bisnis apa yang dapat diselesaikan dengan AI dan bagaimana hasilnya dapat diukur?”
Data Menjadi Fondasi Penting
Penerapan AI juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas data.
Perusahaan yang memiliki data pelanggan, transaksi, pemasaran, operasional, dan keuangan yang tersebar di berbagai sistem akan menghadapi tantangan ketika ingin menggunakan AI secara lebih terintegrasi.
Data yang tidak terstruktur dapat membuat proses analisis menjadi lebih sulit. Selain itu, perusahaan harus memastikan data yang digunakan sesuai dengan kebutuhan, memiliki kualitas yang memadai, dan dikelola dengan memperhatikan aspek keamanan.
Karena itu, penerapan AI sering kali tidak hanya membutuhkan model AI, tetapi juga modernisasi aplikasi, cloud computing, integrasi data, dan keamanan siber.
Dengan kata lain, AI merupakan salah satu bagian dari ekosistem teknologi perusahaan.
Peran Manusia Tetap Menentukan
Menariknya, teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan implementasi AI.
Dalam IBM CEO Study 2026, sebanyak 75% CEO di Indonesia yang disurvei menilai keberhasilan implementasi AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi dan adaptasi manusia dibandingkan kecanggihan teknologi semata. [1]
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan karyawan dalam menggunakan teknologi menjadi faktor penting.
Sebuah perusahaan dapat memiliki sistem AI yang canggih, tetapi manfaatnya akan terbatas apabila karyawan tidak memahami cara menggunakannya.
Pelatihan, perubahan kebiasaan kerja, pengawasan, dan manajemen perubahan menjadi bagian penting dari proses transformasi.
AI pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan manusia dan proses bisnis.
AI Mulai Mendorong Permintaan Layanan Teknologi
Meningkatnya penggunaan AI juga mulai berdampak terhadap permintaan layanan teknologi di Indonesia.
PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), misalnya, melaporkan pertumbuhan order booking Data & AI sebesar 53% secara tahunan pada semester I 2026. Bisnis Hybrid AI perusahaan tersebut juga mencatat pertumbuhan order booking sebesar 172% pada periode yang sama. [2]
Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap solusi yang berkaitan dengan AI.
Namun, order booking tidak sama dengan pendapatan atau laba yang sudah direalisasikan. Pesanan yang masuk masih harus dikonversi menjadi proyek dan penjualan. Karena itu, pertumbuhan permintaan AI perlu dilihat bersama dengan realisasi bisnis perusahaan.
Peluang untuk Bisnis dan UMKM
Perkembangan AI juga tidak hanya terjadi pada perusahaan besar.
Sebelumnya, pada akhir September 2026, Smesco Indonesia mendorong UMKM untuk memanfaatkan AI sebagai salah satu alat untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan daya saing.
Dalam program Smesco Incubation & Acceleration Program (SIAP) 2026, pelaku UMKM mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk sesi mengenai penggunaan Google Gemini untuk mendukung pengembangan usaha. [3]
Bagi UMKM, penggunaan AI dapat dimulai dari kebutuhan yang sederhana.
Contohnya adalah:
Membuat ide konten pemasaran.
Membantu menyusun copywriting.
Menganalisis data pelanggan.
Membuat draft artikel website.
Membantu pelayanan pelanggan.
Membuat ringkasan laporan.
Membantu riset pasar.
Mengembangkan ide produk.
Mengotomatisasi pekerjaan administratif tertentu.
Namun, penggunaan AI sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Tidak semua pekerjaan harus menggunakan AI. Bisnis perlu melihat proses mana yang paling membutuhkan efisiensi dan kemudian mengukur apakah penggunaan AI benar-benar memberikan manfaat.
Pemasaran Digital Ikut Berubah
Bagi industri digital marketing, perkembangan AI juga membawa perubahan besar.
Pembuatan konten yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama kini dapat dibantu AI. Tim marketing dapat menghasilkan beberapa alternatif headline, caption, konsep kampanye, artikel, atau materi iklan dalam waktu yang lebih singkat.
Namun, kecepatan produksi konten bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Konten tetap harus memiliki tujuan, target audiens, pesan yang jelas, serta indikator performa yang dapat diukur.
AI dapat membantu membuat konten, tetapi strategi mengenai siapa yang ingin dijangkau, bagaimana brand ingin diposisikan, dan tindakan apa yang diharapkan dari audiens tetap membutuhkan keputusan manusia.
Karena itu, kombinasi antara AI, data, kreativitas, dan strategi pemasaran menjadi semakin penting.
Digitalisasi Indonesia Terus Berkembang
Perkembangan AI terjadi bersamaan dengan semakin luasnya ekosistem ekonomi digital Indonesia.
Bank Indonesia mencatat bahwa hingga Juni 2026, QRIS telah mencapai 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68% merchant merupakan UMKM.
Pada semester I 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92% secara tahunan. [4]
Data tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bisnis tidak hanya terjadi melalui AI.
Pembayaran digital, e-commerce, media sosial, website, cloud computing, cybersecurity, dan analitik data juga menjadi bagian dari ekosistem digital yang semakin terhubung.
Bagi pelaku bisnis, kondisi ini menciptakan peluang untuk mengembangkan proses bisnis yang lebih terintegrasi.
Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?
Perusahaan yang ingin mulai menggunakan AI tidak harus langsung membangun sistem yang kompleks.
Langkah pertama dapat dimulai dengan mengidentifikasi masalah bisnis.
Misalnya, perusahaan memiliki masalah dalam membuat laporan sehingga membutuhkan waktu terlalu lama. AI dapat digunakan untuk membantu proses pengolahan dan peringkasan data.
Jika masalahnya adalah pelayanan pelanggan, perusahaan dapat mengevaluasi kemungkinan penggunaan AI untuk membantu menjawab pertanyaan umum.
Jika masalahnya adalah pemasaran, AI dapat digunakan untuk membantu menganalisis performa konten dan menghasilkan alternatif materi komunikasi.
Setelah implementasi dilakukan, perusahaan perlu mengukur hasilnya.
Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:
waktu kerja yang dihemat, biaya operasional, jumlah leads, conversion rate, kualitas pelayanan, produktivitas karyawan, dan pendapatan.
Dengan demikian, penggunaan AI tidak berhenti pada tahap mencoba teknologi, tetapi dapat dikaitkan dengan tujuan bisnis yang jelas.
AI Bukan Sekadar Tren Teknologi
Perkembangan AI di Indonesia menunjukkan bahwa teknologi ini semakin dekat dengan aktivitas bisnis sehari-hari.
Namun, semakin luas penggunaannya, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk mengelolanya secara serius.
AI membutuhkan data yang baik, infrastruktur yang memadai, keamanan, sumber daya manusia, serta proses kerja yang jelas.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan risiko dan etika dalam penggunaannya.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan.
Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata, meningkatkan efisiensi, membuka peluang baru, dan memberikan nilai yang dapat diukur.
Bagi bisnis Indonesia, fase berikutnya dari perkembangan AI bukan lagi sekadar “mencoba AI”, tetapi mulai mencari cara agar AI dapat menjadi bagian dari proses bisnis yang menghasilkan manfaat nyata.
Referensi:
[1] IBM CEO Study 2026, dikutip oleh Bisnis.com, 1 Oktober 2026.
[2] PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), data kinerja semester I 2026.
[3] Smesco Indonesia/Kementerian UMKM, SIAP 2026, 30 September 2026.
[4] Bank Indonesia, FEKDI x IFSE 2026.
Namun, meningkatnya penggunaan AI membawa tantangan baru. Perusahaan tidak lagi hanya dituntut untuk memiliki teknologi AI, tetapi juga harus dapat membuktikan bahwa investasi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi bisnis.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam IBM CEO Study 2026. Berdasarkan laporan yang dikutip Bisnis.com pada 1 Oktober 2026, sekitar 90% CEO di Indonesia yang menjadi responden menyatakan telah mengintegrasikan AI ke dalam berbagai alur kerja. Di sisi lain, perusahaan masih menghadapi sejumlah hambatan, termasuk kesiapan infrastruktur, data yang belum terintegrasi, keamanan siber, kesiapan talenta, serta ketidakpastian mengenai return on investment (ROI). [1]
Dari Eksperimen Menuju Implementasi
Perkembangan AI di dunia bisnis mengalami perubahan. Pada tahap awal, banyak perusahaan menggunakan AI untuk mencoba berbagai kemungkinan, seperti membuat konten, merangkum dokumen, menghasilkan ide, atau membantu pekerjaan administratif.
Kini, perusahaan mulai membawa AI ke proses bisnis yang lebih luas.
AI dapat digunakan untuk membantu tim marketing menganalisis data kampanye, membantu customer service mengelompokkan pertanyaan pelanggan, membantu programmer menulis dan memeriksa kode, hingga membantu manajemen memperoleh informasi dari kumpulan data dalam jumlah besar.
Perubahan tersebut membuat AI mulai dipandang bukan hanya sebagai alat produktivitas individu, tetapi sebagai bagian dari sistem kerja perusahaan.
Meski demikian, implementasi dalam skala besar membutuhkan perubahan pada proses kerja. Perusahaan harus menentukan bagaimana AI digunakan, siapa yang bertanggung jawab terhadap hasilnya, bagaimana data dikelola, dan bagaimana kinerjanya diukur.
ROI Menjadi Perhatian Utama
Salah satu persoalan yang semakin penting adalah return on investment (ROI).
Membeli layanan AI atau membangun sistem berbasis AI tidak secara otomatis membuat perusahaan lebih produktif. Perusahaan tetap perlu menghitung apakah teknologi tersebut mampu menghemat waktu, mengurangi biaya, meningkatkan penjualan, memperbaiki pelayanan, atau menghasilkan manfaat lain yang dapat diukur.
IBM mencatat bahwa ketidakpastian terhadap ROI menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan berhati-hati dalam melakukan investasi teknologi berskala besar.
Kondisi tersebut menunjukkan perubahan fokus dalam penerapan AI.
Jika sebelumnya pertanyaannya adalah:
“Apa yang bisa dilakukan AI?”
maka perusahaan kini mulai membutuhkan pertanyaan yang lebih spesifik:
“Masalah bisnis apa yang dapat diselesaikan dengan AI dan bagaimana hasilnya dapat diukur?”
Data Menjadi Fondasi Penting
Penerapan AI juga tidak dapat dilepaskan dari kualitas data.
Perusahaan yang memiliki data pelanggan, transaksi, pemasaran, operasional, dan keuangan yang tersebar di berbagai sistem akan menghadapi tantangan ketika ingin menggunakan AI secara lebih terintegrasi.
Data yang tidak terstruktur dapat membuat proses analisis menjadi lebih sulit. Selain itu, perusahaan harus memastikan data yang digunakan sesuai dengan kebutuhan, memiliki kualitas yang memadai, dan dikelola dengan memperhatikan aspek keamanan.
Karena itu, penerapan AI sering kali tidak hanya membutuhkan model AI, tetapi juga modernisasi aplikasi, cloud computing, integrasi data, dan keamanan siber.
Dengan kata lain, AI merupakan salah satu bagian dari ekosistem teknologi perusahaan.
Peran Manusia Tetap Menentukan
Menariknya, teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan implementasi AI.
Dalam IBM CEO Study 2026, sebanyak 75% CEO di Indonesia yang disurvei menilai keberhasilan implementasi AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi dan adaptasi manusia dibandingkan kecanggihan teknologi semata. [1]
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan karyawan dalam menggunakan teknologi menjadi faktor penting.
Sebuah perusahaan dapat memiliki sistem AI yang canggih, tetapi manfaatnya akan terbatas apabila karyawan tidak memahami cara menggunakannya.
Pelatihan, perubahan kebiasaan kerja, pengawasan, dan manajemen perubahan menjadi bagian penting dari proses transformasi.
AI pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan manusia dan proses bisnis.
AI Mulai Mendorong Permintaan Layanan Teknologi
Meningkatnya penggunaan AI juga mulai berdampak terhadap permintaan layanan teknologi di Indonesia.
PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), misalnya, melaporkan pertumbuhan order booking Data & AI sebesar 53% secara tahunan pada semester I 2026. Bisnis Hybrid AI perusahaan tersebut juga mencatat pertumbuhan order booking sebesar 172% pada periode yang sama. [2]
Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap solusi yang berkaitan dengan AI.
Namun, order booking tidak sama dengan pendapatan atau laba yang sudah direalisasikan. Pesanan yang masuk masih harus dikonversi menjadi proyek dan penjualan. Karena itu, pertumbuhan permintaan AI perlu dilihat bersama dengan realisasi bisnis perusahaan.
Peluang untuk Bisnis dan UMKM
Perkembangan AI juga tidak hanya terjadi pada perusahaan besar.
Sebelumnya, pada akhir September 2026, Smesco Indonesia mendorong UMKM untuk memanfaatkan AI sebagai salah satu alat untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan daya saing.
Dalam program Smesco Incubation & Acceleration Program (SIAP) 2026, pelaku UMKM mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk sesi mengenai penggunaan Google Gemini untuk mendukung pengembangan usaha. [3]
Bagi UMKM, penggunaan AI dapat dimulai dari kebutuhan yang sederhana.
Contohnya adalah:
Membuat ide konten pemasaran.
Membantu menyusun copywriting.
Menganalisis data pelanggan.
Membuat draft artikel website.
Membantu pelayanan pelanggan.
Membuat ringkasan laporan.
Membantu riset pasar.
Mengembangkan ide produk.
Mengotomatisasi pekerjaan administratif tertentu.
Namun, penggunaan AI sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Tidak semua pekerjaan harus menggunakan AI. Bisnis perlu melihat proses mana yang paling membutuhkan efisiensi dan kemudian mengukur apakah penggunaan AI benar-benar memberikan manfaat.
Pemasaran Digital Ikut Berubah
Bagi industri digital marketing, perkembangan AI juga membawa perubahan besar.
Pembuatan konten yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama kini dapat dibantu AI. Tim marketing dapat menghasilkan beberapa alternatif headline, caption, konsep kampanye, artikel, atau materi iklan dalam waktu yang lebih singkat.
Namun, kecepatan produksi konten bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Konten tetap harus memiliki tujuan, target audiens, pesan yang jelas, serta indikator performa yang dapat diukur.
AI dapat membantu membuat konten, tetapi strategi mengenai siapa yang ingin dijangkau, bagaimana brand ingin diposisikan, dan tindakan apa yang diharapkan dari audiens tetap membutuhkan keputusan manusia.
Karena itu, kombinasi antara AI, data, kreativitas, dan strategi pemasaran menjadi semakin penting.
Digitalisasi Indonesia Terus Berkembang
Perkembangan AI terjadi bersamaan dengan semakin luasnya ekosistem ekonomi digital Indonesia.
Bank Indonesia mencatat bahwa hingga Juni 2026, QRIS telah mencapai 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68% merchant merupakan UMKM.
Pada semester I 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi dengan nilai sekitar Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92% secara tahunan. [4]
Data tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi bisnis tidak hanya terjadi melalui AI.
Pembayaran digital, e-commerce, media sosial, website, cloud computing, cybersecurity, dan analitik data juga menjadi bagian dari ekosistem digital yang semakin terhubung.
Bagi pelaku bisnis, kondisi ini menciptakan peluang untuk mengembangkan proses bisnis yang lebih terintegrasi.
Apa yang Harus Dilakukan Bisnis?
Perusahaan yang ingin mulai menggunakan AI tidak harus langsung membangun sistem yang kompleks.
Langkah pertama dapat dimulai dengan mengidentifikasi masalah bisnis.
Misalnya, perusahaan memiliki masalah dalam membuat laporan sehingga membutuhkan waktu terlalu lama. AI dapat digunakan untuk membantu proses pengolahan dan peringkasan data.
Jika masalahnya adalah pelayanan pelanggan, perusahaan dapat mengevaluasi kemungkinan penggunaan AI untuk membantu menjawab pertanyaan umum.
Jika masalahnya adalah pemasaran, AI dapat digunakan untuk membantu menganalisis performa konten dan menghasilkan alternatif materi komunikasi.
Setelah implementasi dilakukan, perusahaan perlu mengukur hasilnya.
Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:
waktu kerja yang dihemat, biaya operasional, jumlah leads, conversion rate, kualitas pelayanan, produktivitas karyawan, dan pendapatan.
Dengan demikian, penggunaan AI tidak berhenti pada tahap mencoba teknologi, tetapi dapat dikaitkan dengan tujuan bisnis yang jelas.
AI Bukan Sekadar Tren Teknologi
Perkembangan AI di Indonesia menunjukkan bahwa teknologi ini semakin dekat dengan aktivitas bisnis sehari-hari.
Namun, semakin luas penggunaannya, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk mengelolanya secara serius.
AI membutuhkan data yang baik, infrastruktur yang memadai, keamanan, sumber daya manusia, serta proses kerja yang jelas.
Perusahaan juga perlu mempertimbangkan risiko dan etika dalam penggunaannya.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan.
Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata, meningkatkan efisiensi, membuka peluang baru, dan memberikan nilai yang dapat diukur.
Bagi bisnis Indonesia, fase berikutnya dari perkembangan AI bukan lagi sekadar “mencoba AI”, tetapi mulai mencari cara agar AI dapat menjadi bagian dari proses bisnis yang menghasilkan manfaat nyata.
Referensi:
[1] IBM CEO Study 2026, dikutip oleh Bisnis.com, 1 Oktober 2026.
[2] PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), data kinerja semester I 2026.
[3] Smesco Indonesia/Kementerian UMKM, SIAP 2026, 30 September 2026.
[4] Bank Indonesia, FEKDI x IFSE 2026.